Sabtu, 02 April 2011

PANTUN JENAKA

Lebuh raya kota bersegi
Tempat temasya dara teruna
Hodohnya ketawa orang tak bergigi
Ibarat kota tiada kubunya

Api terang banyak kelkatu
Masuk ke kamar bersesak-sesak
Alangkah geli rasa hatiku
Melihat nenek bergincu berbedak

Ditiup angin bunga semalu
Kuncup daun bila berlaga
Bercakap Melayu kononnya malu
Belacan setongkol dibedal juga

Orang Rengat menanam betik
Betik disiram air berlinang
Hilang semangat penghulu itik
Melihat ayam lumba berenang

Tanam jerangau di bukit tinggi
Mati dipijak anak badak
Melihat sang bangau sakit gigi
Gelak terbahak penghulu katak

Singapura dilanggar todak
Kapal karam di Tanjung Peringin
Orang tua beristerikan budak
Macam beruk mendapat cermin

Bapa gergasi menebar jala
Pegang tali melintuk-liuk
Masakan pengerusi tak garu kepala
Melihat ahli semua mengantuk

Gemuruh tabuh bukan kepalang
Diasah lembing berkilat-kilat
Gementar tubuh harimau belang
Nampak kambing pandai bersilat

Buah salak di rumah Tok Imam
Sirih sekapur pergi menjala
Anjing menyalak harimau demam
Kucing di dapur pening kepala

Anak cina menggali cacing
Mari diisi dalam tempurung
Penjual sendiri tak kenal dacing
Alamat dagangan habis diborong

Biduk buluh bermuat tulang
Anak Siam pulang berbaris
Duduk mengeluh panglima helang
Melihat ayam bercengkang keris

Buah jering dari Jawa
Naik sigai ke atas atap
Ikan kering lagi ketawa
Dengar tupai baca kitab

Pohon manggis di tepi rawa
Tempat datuk tidur beradu
Sedang menangis nenek tertawa
Melihat datuk bermain gundu

Ceduk air di dalam perigi
Timbanya bertangkaikan suasa
Jikalau kucing tak bergigi
Alamat tikus berjoget berdansa

Anak dara Datuk Tinggi
Buat gulai ikan tilan
Datuk tua tak ada gigi
Bila makan kunyah telan

Berderak-derak sangkutan dacing
Bagaikan putus diimpit lumpang
Bergerak-gerak kumis kucing
Melihat tikus bawa senapang

Pokok pinang patanya condong
Dipukul ribut berhari-hari
Kucing berenang tikus berdayung
Ikan di laut berdiam diri

Tanam pinang di atas kubur
Tanam bayam jauh ke tepi
Walaupun musang sedang tidur
Mengira ayam di dalam mimpi

Anak bakau di rumpun salak
Patah taruknya ditimpa genta
Riuh kerbau tergelak-gelak
Melihat beruk berkaca mata

Orang menganyam sambil duduk
Kalau sudah bawa ke balai
Melihat ayam memakai tanduk
Datang musang meminta damai

Hilir lorong mudik lorong
Bertongkat batang temberau
Bukan saya berkata bohong
Katak memikul paha kerbau

Di kedai Yahya berjual surat
Di kedai kami berjual sisir
Sang buaya melompat ke darat
Melihat kambing terjun ke air

Jikalau lengang dalam negeri
Marilah kita pergi ke kota
Hairan tercengang kucing berdiri
Melihat tikus naik kereta

Senangis letak di timbangan
Pemulut kumbang pagi-pagi
Menangis katak di kubangan
Melihat belut terbang tinggi

Anak Hindu beli petola
Beli pangkur dua-dua
Mendengar kucing berbiola
Duduk termenung tikus tua

Punggur berdaun di atas kota
Jarak sejengkal dua jari
Musang rabun, helang pun buta
Baru ayam suka hati

Ketika perang dinegeri Jerman
Ramai askarnya mati mengamuk
Rangup gunung dikunyah kuman
Lautan kering dihirup nyamuk

Jual betik dengan kandil
Kandil buatan orang Inggeris
Melihat buaya menyandang bedil
Lembu dan kerbau tegak berbaris

Jemur bijan dengan kulitnya
Jemur di atas pohon lembayung
Hari hujan sangat lebatnya
Lamun Si Pandir mengepit payung

Elok rupa pohon belimbing
Tumbuh dekat limau lungga
Elok berbini orang sumbing
Walau marah ketawa juga

Rumah besar berdinding tidak
Beratapkan daun palas
Badan besar beristeri tidak
Itu tandanya orang pemalas

Adik nama Comat
Suka beri salam
Budak ketawa kuat
Suka kecing malam

Dari Ambun hendak ke Perak
Singgah di Jeram Mengkuang
Si Awang Kenit mencuri kerak
Hidung berbelang terpalit arang

Biduk lalu kiambang bertaut
Nakhoda Kasap duduk termenung
Gila latah ikan di laut
Melihat umpan di kaki gunung

Pakai seluar labuh ke bawah
Ikut permatang jalan melenggang
Nampak zahir memang mewah
Tapi hutang keliling pinggang

Orang Sibu menunggang kuda
Kuda ditunggang patah pinggang
Masih mahu mengaku muda
Padahal cucu keliling pinggang

Tahankan jerat gunakan tali
Pacak kuat biar melekap
Kalau bini suka membeli
Hutang berbaris suami ke lokap

Tuan puteri memasang panjut
Dayang tolong menghalau lalat
Kucing tidur bangkit terkejut
Melihat tikus pandai bersilat


Oleh  : Chairil Azwar
http://penyair.wordpress.com/2010/01/17/koleksi-peribahasa-melayu-simpulan-bahasa-dan-maksud/
http://penyair.wordpress.com/2007/04/11/pantun-budi/
http://penyair.wordpress.com/2007/04/05/teka/

PERIODE KARYA SASTRA INDONESIA

          Dalam sejarah sastra Indonesia, karya sastra bisa dibagi berdasarkan periodisasinya. Periodisasi adalah pembagian kronologi perjalanan sastra atas masanya, biasanya berupa dekade-dekade. Pada dekade-dekade tertentu dikenall angkatan-angkatan kesusastraan, misalnya Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, Angkatan ’45, Angkatan ‘66 dan Angkatan 2000. Kedua istilah itu (dekade dan angkatan) bisa digunakan secara bersamaan, bahkan adakalanya angkatan kesusastraan tertentu diberi nama dekade tertentu.
Dimulai dari masa Balai Pustaka, sejarah kesusastraan Indonesia bisa dirinci atau dilakukan periodisasi berikut ini:
  1. Angkatan Balai Pustaka (Dekade 20-an)
  2. Angkatan Pujangga Baru (Dekade 30-an)
  3. Kesusastraan Masa Jepang
  4. Angkatan ‘45
  5. Sastra Dekade 50-an
  6. Sastra Angkatan ’66 (Generasi Manifes Kebudayaan)
  7. Sastra Dekade 70-an s.d. 80-an /Angkatan 80-an
  8. Sastra Mutakhir/Terkini
(Dekade 1990-an dan Angkatan 2000).
Dalam setiap angkatan/periodenya, kesusastraan tentu memiliki tokoh-tokoh sastrawan-sastrawati baik pengarang yang mencipta bentuk-bentuk prosa maupun penyair yang mengarang bentuk-bentuk puisi. Kadang-kadang sang pengarang juga sekaligus penyair karena ia mencipta dua bentuk sekaligus, yakni puisi dan prosa fiksi, misalnya Muhammad Yamin, Sanusi Pane, Sutan Takdir Alisyahbana, Ayip Rosidi, Motenggo Boesye, Rendra, Kuntowijoyo, Emha Ainun Najib, Afrizal Malna, Abidah Al Khalieqy, Helvy Tiana Rosa, dan Iain-lain.
  1. Karya Sastra Terpenting dan Ciri-ciri pada Tiap-tiap Periode
          Di atas telah disampaikan periodisasi kesusastraan Indonesia diawali dari Angkatan Balai Pustaka yang mulai berkiprah pada era 20-an sampai Angkatan 2000 sekarang ini. Pada masing-masing angkatan/periode muncul hasil-hasil karya sastra yang penting dan monumental yang dikarang oleh sastrawan-sastrawati terkenal, baik berbentuk prosa fiksi, puisi maupun naskah drama. Karya sastra pada masing-masing angkatan/periode memiliki ciri-ciri tertentu. 

Angkatan Balai Pustaka/Dekade 20-an, tokoh-tokohnya:

a. Marah Rusli dengan karyanya roman “Siti Nurbaya”.
b. Muhammad Yamin dengan karyanya kumpulan puisi “Tanah Air”,
e. Abdul Muis dengan karyanya roman “Salah Asuhan”.
d. Rustam Efendi dengan karyanya kumpulan puisi “Percikan Permenungan”.
e. Nur Sutan Iskandar dengan karyanya roman “Katak Hendak Jadi Lembu”.

Angkatan Pujangga Baru/Dekade 30-an dengan tokoh-tokohnya:

a. Sutan Takdir Alisyahbana dengan karyanya roman “Layar Terkembang” dan
kumpulan puisi “Tebaran Mega”.
b. Amir Hamzah dengan karyanya kumpulan puisi “Buah Rindu” dan “Nyanyi Sunyi”.
e. Armijn Pane dengan karyanya roman “Belenggu”.
d. Sanusi Pane dengan kumpulan puisinya “Madah Kelana” dan drama “Manusia
    Baru”
e. Y.E. Tatengkeng dengan kumpulan puisinya “Rindu Dendam”.
f. HAMKA dengan romannya “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”.

Kesusastraan Masa Jepang dan Angkatan ‘45 dengan tokoh-tokohnya:

a. Chairil Anwar dengan kumpulan puisinya “Deru Campur Debu”.
b. Usmar Ismail dengan dramanya “Citra”
e. El Hakim dengan dramanya “Taufan di Atas Asia”.
d. Achdiat Kartamihardja dengan romannya “Atheis”.
e. Pramudya Ananta Toer dengan romannya “Percikan Revolusi”
Di era sekarang Pramudya terkenal dengan caturlogi roman Pulau Buru.

Dekade 50-an dengan tokoh-tokohnya antara lain:
  1. Ayip Rosidi dengan novelnya “Sebuah Rumah Buat Hari Tua”.
  2. Motinggo Boesye dengan dramanya “Malam Jahannam”.
  3. Nh. Dini dengah novelnya “Hati yang Damai”.
  4. Rendra dengan kumpulan puisinya “Balada Orang-orang Tercinta”.
    Penyair ini masih kreatif sampai sekarang. 
  5. Mochtar Lubis dengan novelnya “Jalan Tak Ada Ujung”.
Angkatan ‘66 dengan tokoh-tokohnya antara lain:
  1. Taufiq Ismail dengan kumpulan puisinya “Tirani” dan “Benteng”.
  2. Sapardi Joko Damono dengan kumpulan puisinya “Duka-Mu Abadi”.
  3. Hartoyo Andangjaya dengan kumpulan puisinya “Buku Puisi”.
  4. Bur Rasuanto dengan kumpulan puisinya “Mereka Telah Bangkit”.
  5. Ramadhan KH dengan novelnya “Royan Revolusi” dan kumpulan puisi “Priangan
    Si Jelita”.
Angkatan 70-an – 80-an dengan tokoh-tokohnya antara lain:
  1. Sutardji Calzoum Bachri dengan kumpulan puisinya ”O Amuk Kapak”.
  2. Iwan Simatupang dengan novelnya “Ziarah”.
  3. Danarto dengan kumpulan cerpennya “Godlob”.
  4. Y.B. Mangunwijaya dengan novelnya “Burung-burung Manyar”.
  5. Putu Wijaya dengan novelnya ”Telegram”, dan drama “Dag Dig Dug”.
  6. Kuntowijoyo dengan novelnya “Khotbah di Atas Bukit”
  7. Yudhistira Ardi Noegraha dengan novelnya “Mencoba Tidak Menyerah”.
  8. Arifin C. Noer dengan dramanya “Mega-Mega”.
  9. Umar Kayam dengan novelnya “Para Priyayi”.
  10. Ahmad Tohari dengan trilogi novel “Ronggeng Dukuh Paruk”.
Sastra Mutakhir (Dekade 90-an dan Angkatan 2000) dengan tokohnya antara lain:
  1. Emha Ainun Najib dengan kumpulan puisinya “Sesobek Buku Harian Indonesia”
    dan drama “Lautan Jilbab”.
  2. Seno Gumira Ajidarma dengan kumpulan cerpennya “Iblis Tidak Pernah Mati”.
  3. Ayu Utami dengan novelnya “Saman” dan “Larung”
  4. Jenar Mahesa Ayu dengan kumpulan cerpennya “Mereka Bilang Saya Monyet”.
  5. N. Riantiarno dengan dramanya “Opera Kecoa” dan “Republik Bagong”:.
  6. Yanusa Nugraha dengan kumpulan cerpennya “Segulung Cerita Tua” .
  7. Afrizal Malna dengan kumpulan puisinya “Abad yang Berlari”.
  8. Ahmadun Y. Herfanda dengan kumpulan puisinya “Sembahyang Rumputan”.
  9. D. Zawawi Imron dengan kumpulan puisinya “Bantalku Ombak, Selimutku Angin”.
  10. K.H. Ahmad Mustofa Bisri dengan kumpulan puisinya “Ohoi Puisi-puisi Balsem” dan “Gandrung”.




    Oleh : Chairil Azwar

Jumat, 01 April 2011

Karya Sastra Amir Hamzah





 Memetik Buah Rindu Tengku Amir Hamzah


Oleh Hudjolly, M.Phil
Tengku Amir Hamzah, memiliki nama lengkap Tengku Amir Hamzah Pangeran Indera Putera, lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur, tanggal 28 Februari 1911 dan wafat di Kuala Begumit dalam suatu tragedi kematian yang tragis pada tanggal 20 Maret 1946. Amir Hamzah meninggal dunia saat berusia 35 tahun. Sebagian peneliti menyebut kematian Amir Hamzah sebagai korban revolusi sosial di era awal kemerdekaan.
Pendahuluan
Lahir dari lingkungan keluarga bangsawan Melayu di Kesultanan Langkat membuat Tengku Amir Hamzah akrab dalam suasana alam sastra kebudayaan Melayu. Agakya, lingkungan inilah yang mempengaruhi minat Amir Hamzah pada dunia sastra, terutama sastra Melayu. Tengku Amir Hamzah adalah seorang sastrawan “pra Indonesia” yang oleh sastrawan “periode Indonesia” seperti HB Jassin dikelompokkan dalam Angkatan Pujangga Baru.
Meskipun berasal dari kalangan bangsawan berkultur Melayu, tetapi tidak seluruh corak sastra Amir Hamzah dipengaruhi oleh sastra Melayu. Memasuki usia remaja, Amir Hamzah menyelesaikan masa belajarnya di Jawa, di sekolah menengah (MULO) Medan dan pindah di MULO Jakarta, Aglemeene Middelbare School (AMS) jurusan Sastra Timur di Solo, lantas kembali lagi ke Jakarta di Sekolah Tinggi Hukum.
Semasa studi di AMS Solo, Amir Hamzah menulis sebagian besar sajak-sajak pertamanya. Latar pendidikan sekolah di Tanjung Pura yang menggunakan bahasa Belanda dan sekolah menengah di Jawa serta kegiatan pergerakan di Solo membuat horison pengetahuan Amir Hamzah semakin kaya dengan perpaduan kebudayaan modern (Eropa), kebudayaan Jawa, bahkan secara umum kebudayaan Asia. Horison perjumpaan kebudayaan dalam diri Amir Hamzah dapat dilihat dari karya Buah Rindu (ditulis 1928-1935) yang memadukan syair Melayu dalam sajak Eropa. Tentu saja ini penilaian yang bersifat mimetik. Penilaian mimetik yaitu pendekatan kritik sastra dalam pandangan semesta pemikiran yang melingkupi kelahiran sebuah sastra (Teeuw, 1984:50).
Yang Acak dan Yang Teratur
Di dalam perpaduan syair Melayu dan sajak Eropa tentu saja terdapat persesuaian, baik makna internal teks atau makna eksternal teks. Makna internal menyangkut penyerapan kata-kata yang dijadikan isi sajak atau kata yang dijadikan perumpamaan untuk mengantarkannya menuju isi sajak. Seperti petikan Buah Rindu: //Dikau sambur limbur pada senja//, memadukan metafor alam dan keindahan manusia dalam satu larik. Persitegangan antara suasana indah yang digambarkan melalui pesona-pesona alam tetapi membalut resah nan sepi kerinduan sang penyair. Indah yang membalut sepi, sepi yang bersabut keindahan.
Selain itu kesemestaan sebuah karya selalu memunculkan persitegangan dari berbagai macam sistem, hirarkis dan hubungan-hubungannya dalam suatu relasi sosial politik, atau relasi kelas maupun relasi kemanusiaan. Teeuw (1984:110-115) memberi identifikasi ketegangan yang kompleks dalam suatu karya sastra semacam itu sebagai “konvensi dan invensi”. Sifat konvensi dan invesi tersusun dalam relasi yang tidak stabil. Ketegangan dalam teks sebagaimana dimaksud Teeuw itu tidak hanya berhubungan dengan sistematika teks atau hirarki kebahasaan, tetapi meluas pada pemaknaan yang melingkupi pembentukan teks dalam karya sastra.
BUAH RINDU (1)
Dikau sambur limbur pada senja
Dikau alkamar purnama raya
Asalkan kanda bergurau senda
Dengan adinda tajuk mahkota.
Di tuan rama-rama melayang
Di dinda dendang sayang
Asalkan kanda selang-menyelang
Melihat adinda kekasih abang.
Secara eksternal, ketegangan konvensi dan invensi merupakan ketegangan dunia di luar teks bahasa tulis yang dimasukkan dalam teks sajak sebagaimana nampak dalam sepenggal Buah Rindu di atas. Dunia luar merupakan teks yang living, hidup sedangkan teks sajak merupakan salinan dari teks dunia. Apa yang dimaksud dengan “dunia luar” adalah kenyataan dunia yang dipahami manusia sebagai teks yang belum ditandai ke dalam bentuk bahasa tulis. Ditandai berarti menunjukkan kondisi atau sikap ketertarikan manusia terhadap satu realitas luar dunia. Misalnya “senja”, menggunakan kata senja berarti menandai suasana temaran sore yang diresapi dan diamati dalam keadaan yang sadar. Orang yang tidak mengamati senja tidak merasakan suasana senja secara sadar sehingga suasana senja tidak ditandai dalam pengamatannya atau tidak muncul dalam teks lisan atau tulisan.
Bahasa tulis dinamakan pula sebagai “salinan bahasa”, salinan dunia luar ke dalam bahasa tulis. Apa yang disebutkan dengan bahasa tulis adalah salinan bahasa (Hasan Lubis, 1994:3). Teks—dalam bentuk tulisan cetak miring ini—merupakan nama lain dari kenyataan dunia yang ditangkap oleh pemahaman manusia yang menggelindingkan kata-kata berbuai para pujangga, sastrawan, goresan tajam para pelukis dan pematung dan seterusnya.
Teks dunia terdiri dari lambang-lambang yang setiap lambang menunjuk pada satu dunia tersendiri. Misalnya salinan bahasa “senja” merupakan lambang dari dunia yang sedang berselimut cahaya temaram menjelang matahari terbenam. “Dikau” merupakan lambang orang kedua yang sedang dilibatkan dalam komunikasi seseorang. Horison pengetahuan Tengku Amir Hamzah terhadap teks–teks kompleks di luar dirinya disalin dalam bahasa tulis. Bahasa itu sendiri merupakan lambang-lambang dunia (teks) yang diucapkan secara teratur. Pemilihan “cahaya senja” dan “purnama raya” merupakan metafor keindahan suasana hati yang sepi, tenang namun menyisipkan kegalauan.
Lambang-lambang teks yang dipilih untuk menyusun teks puisi itu berpola menjadi dua kelompok yakni kelompok lambang beraturan dan kelompok lambang tidak beraturan. “Senja” atau “purnama raya” melambangkan suatu kondisi alam yang tidak menunjukkan keberaturan. Keduanya hanya menunjuk pada suatu kondisi atau keadaan alam dalam waktu tertentu. Salinan bahasa “kanda” dan “dinda” menunjukkan lambang-lambang yang memiliki keteraturan, tidak bersifat acak dalam menggambarkan keadaan. ‘Kanda dan adinda’ adalah hubungan tertentu dari dua orang dengan syarat tertentu pula dan menggambarkan sebuah relasi yang dimiliki kumpulan manusia dalam posisinya sebagai kelompok sosial yang memiliki stratifikasi masyarakat.
Secara umum—dalam sudut pandang pembentukan bahasa—semua lambang dunia, bahasa salinan bersifat acak. Tidak ada aturan yang menentukan kenapa situasi temaram sore dilambangkan “senja”, bahwa “kanda“ digunakan untuk menyebut sosok lelaki, “dinda” kepada wanita, bahwa benda bulat bercahaya menggantung di ufuk langit saat malam tiba dinamakan “bulan”, atau “purnama raya” kata Amir Hamzah. Tidak ada penjelasan kenapa ibu jari ditandai sebagai “jempol”. Penetapan kata-kata tersebut muncul secara acak, arbitrer. Tak ada satu kode pun yang menunjukkan tata aturan pelambangan dunia riil ini ke dalam bahasa tulis. Meskipun demikian, secara parodi dapatlah dibuat kesan tentang tata aturan kebahasaan, semisal kata “tahi lalat” yang berarti titik hitam di kulit muka. Jika dinamakan “tahi kuda” tentulah seluruh muka harus tertutup gumpalan titik hitam itu. Jenis-jenis parodi ke-bahasa-an ini cukup beragam motifnya dan cenderung bercorak etnolinguistik. Seperti di Jawa yang menggunakan pemilihan lambang-lambang teks dengan kesamaan nada artikulasi saat diucapkan, misalnya kata “garwa” (istri) berasal dari sigaran (belahan) nyawa. Pada daerah-daerah Sumatra menggunakan pemilihan lambang dengan pantun misalnya “sudah gaharu cendana pula” untuk menyebut orang yang pura-pura tidak tahu.
Sajak-sajak Amir Hamzah memanfaatkan hal-hal yang bersifat acak kebahasaan itu untuk diletakkan pada suatu posisi yang beraturan. Sifat acak diambil dari khasanah kebahasaan Melayu (yang menjadi bahasa Indonesia) seperti selang-menyelang, kelana, jua, laguan, lambang teks dunia yang relatif ‘baru’ bagi perbendaharaan bahasa kala itu. Termasuk penggunaan lambang ‘aku’ dalam bahasa daerah yakni beta tujuannya untuk mendapatkan keteraturan tertentu. Jika tetap menggunakan ‘aku’ nada belakang sajak menjadi sajak yang bebas. Salinan bahasa yang terpilih dalam teks Buah Rindu, mendadak memiliki cukup alasan menempati suatu posisi dalam bahasa lisan dan bahasa tulis. //Di tuan rama-rama melayang// Di dinda dendang sayang//. Melayang dan sayang menghilangkan sifat acak. Keteraturan itu bersandingan pula dalam tatanan //Asalkan kanda selang-menyelang//Melihat adinda kekasih abang//.
Secara alamiah dan internal, sifat bahasa adalah teratur. Keteraturan terletak pada lambang-lambang yang diucapkan—secara teratur—dalam sistem yang dipahami atau sistem yang disepakati komunitas pemakai lambang tersebut. Menggunakan bahasa berarti mengatur penempatan lambang-lambang sedemikian rupa untuk menjadikan orang lain memahami apa yang dimaksudkan si pembahasa. Kenapa keteraturan dalam bahasa demikian penting? Karena bahasa adalah sebuah sistem yang memiliki keteraturan tersendiri (Hasan Lubis, 1994:1).
Keteraturan adalah hukum alam bahasa agar dapat dimengerti oleh orang lain yang terlibat dalam komunikasi lisan. Misalnya tuturan “Amir Hamzah bersekolah di Mulo sejak usia 14 tahun” setiap kata itu menempati tempatnya secara pas dan teratur sehingga bisa dipahami, jika tidak ada keteraturan maka kalimat itu bisa saja tenjadi ”Mulo di bersekolah 14 sejak Amir Hamzah usia”. Namun demikian bukan keteraturan semacam itu yang dimainkan oleh Tengku Amir Hamzah, keteraturan Buah Rindu terletak pada spesifikasi morfem-morfem yang dipilih untuk menempati badan sajak, terlepas dari pola sajak Buah Rindu yang dikategorikan sebagai sajak beraturan. Sajak beraturan yakni bunyi sajak yang menggunakan pola tertentu (teratur) pada akhir baris yang diuntai, misalnya uuuu, aa-uu, ua-ua > Keteraturan itu tidak hanya berkaitan dengan bunyi akhir sajak tetapi pada pemilihan metafor, pemiilihan pengantar dan makna yang dituju.
...............
Ibu, seruku ini laksana pemburu
Memikat perkutut di pohon ru
Sepantun swara laguan rindu
Menangisi kelana berhati mutu.
Kelana jauh duduk merantau
Di balik gunung dewala hijau
Di seberang laut cermin silau
Tanah Jawa mahkota pulau ….
Buah kenanganku entah ke mana
Lalu mengembara ke sini sana
Haram berkata sepatah jua
Ia lalu meninggalkan beta.
Di balik keteraturan itu ternyata tetap menyimpan ketegangan antara lambang-lambang bahasa yang diatur dalam teks sajak. Pengaturan justru menjadikan lambang bahasa harus bersitegang dengan lambang lainnnya. “Buah” dan “kenanganku” merupakan ketegangan, manalah ada pohon yang berbuah kenangan. Buah kenangan itu merupakan ketegangan dua lambang yang dipakai secara imajiner untuk menggambarkan seseorang yang dirindukan Amir Hamzah. Relasi ketegangan “buah kenangan” merupakan salah satu invensi yang dipakai Amir Hamzah. Hampir dapat dipastikan bahwa sajak, puisi selalu mengandung invensi yang berasal dari imajinasi penyair. Invensi ini menjadi salah satu kekuatan bahasa puitik, sajak, dan memudahkan penggambaran teks dunia ke dalam teks sajak/syair/tulisan. Tetapi penempatan invensi haruslah sesuai dengan citarasa dan tujuan makna yang dibahasakan dalam sajak itu. Pemilihan lambang-lambang arbitrer yang disatukan atau digubah menjadi kata invensi juga tidak bisa dilakukan secara acak, minimal ada keteraturan bunyi dan lebih tepat memiliki keteraturan makna, misalnya “tanah jawa mahkota pulau”.
Konvensi dan Invensi
Istilah invensi (invention) diserap dari Bahasa Inggris memiliki makna hasil dalam penemuan, ciptaan, ikatan njempol, rekaan, atau hasil khayalan. Proses invensi ini terlihat dalam pemakaian beberapa pemeran yang berdialog dengan “aku” dalam sajak Amir Hamzah. pada sajak Buah Rindu setidaknya ada dua peran yang sedang diajak bercengkerama yaitu: ibu dan alam. Ditambah dengan sebuah peran rekaan yang imajinatif sebagai isi khayalan sang penyair, yaitu si buah kenangan. Ada dua kemungkinan untuk menerka siapakah si buah kenangan itu. Ia merupakan kekasih hati yang sedang dirindukan sang penyair ataukah ia hanya sebuah tamsil untuk menunjukkan adanya sesuatu yang hilang dari sanubari si “aku” dalam sajak Amir Hamzah.
Di sini, antara si “aku” dan Amir Hamzah tidak satukan terlebih dahulu. Sebab menyamakan si “aku” dalam sajak sebagai Amir Hamzah sendiri membutuhkan analisa konteks sosial. Apakah Amir Hamzah memang tengah merindu pada seseorang yang dicinta semasa kanak-kanak di Tanjung Pura yang kini tidak lagi memperdulikan dirinya di perantauan? Ataukah ia sedang membangun invensi tentang aktor “aku” yang sedang merindu, sebagaimana tokoh “aku” dalam novel yang tidak sama dengan si penulis? Ataukah “kekasih yang hilang”i tu merupakan tamsil dari keadaan yang dialami penulis?
Invensi yang menggunakan alam dalam imajinasi “selalu menyendiri” diberitakan dalam rupa-rupa nan indah. Kesendirian ini memiliki suasana yang pas dengan perasaan rindu. Alam yang menawan hati sang perindu diwartakan dalam “gunung dewala hijau” yang dipenuhi nyanyian burung (perkutut). Burung perkutut itu dipilih, ditandai berkaitan dengan suasana perkutut yang penyendiri tidak bergerombol dan cenderung tidak bertingkah berlompatan, termasuk penandaan “sang pemburu” juga diliputi kesendirian. Tidak ada pemburu yang berisik, sekalipun ada kelompok pemburu tindakannya tetap menciptakan kesendirian, sepi. Realitas alam diambil pada bagian-bagian yang dapat menggambarkan suasana sendiri, sunyi nan sublim. Bayangkan di tengah gunung hijau hanya terdengar nyanyian seekor burung perkutut. Itu sebuah kesunyian, tapi bukan kesunyian yang senyap dan hening.
“Kesunyian” agaknya menjadi salah satu gaya invensi sajak yang dipakai Amir Hamzah, selain dalam kumpulan sajak Buah Rindu, gaya sunyi itu sangat kentara dalam kumpulan sajak Nyanyi Sunyi (1937). Gaya merupakan segala sesuatu yang dipilih untuk memberikan suatu ciri yang khas dalam sebuah teks. Dengan adanya gaya yang bersifat khas menjadikan teks itu bagaikan cerminan individu yang sekaligus membedakan satu teks sastra dengan teks sastra lainnya (Luxemburg, dkk, 1989:105). Gaya kesunyian yang menjadi invensi sajak Amir Hamzah—jika menilik kumpulan Buah Rindu dan Nyanyi Sunyi—telah menjadi kebiasaan (konvensi) sang penyair. Salah satu contoh sajak Nyanyi Sunyi sebagaimana dimaksud di sini diletakkan di akhir tulisan.
................
Ibu, lihatlah anakmu muda belia
Setiap waktu sepanjang masa
Duduk termenung berhati duka
Laksana Asmara kehilangan seroja.
Bunda waktu tuan melahirkan beta
Pada subuh kembang cempaka
Adakah ibu menaruh sangka
Bahwa begini peminta anakda?
Wah kalau begini naga-naganya
Kayu basah dimakan api
Aduh kalau begini laku rupanya
Tentulah badan lekaslah fani
.
Konvensi (convention) setara makna dengan rapat, adat/kebiasaan, perjanjian, atau kaidah/ketentuan. Dengan demikian, ada dua jenis konvensi dalam ketegangan yang dimainkan oleh Amir Hamzah. Pertama, konvensi yang berarti kebiasaan menggunakan lambang-lambang kesunyian. Kedua, konvensi yang berarti pemakaian istilah dalam adat, kaidah suatu adat, peraturan sosial di masyarakat Melayu, misalnya pelambangan “kanda dan dinda”. Kanda-dinda merupakan konvensi adat Melayu yang menunjuk pada pria-wanita yang terikat asmara.
//Ibu, lihatlah anakmu muda belia// juga konvensi yang biasa dipakai oleh adat Melayu yang menunjukkan penghormatan anak kepada ibunya, kedekatan anak dan ibu. Selain konvensi adat Melayu yang dipakai dalam teks sajak, Amir Hamzah tidak ketinggalan memasukan kaidah ketentuan agama. Lihatlah //Aduh kalau begini laku rupanya//Tentulah badan lekaslah fani// merupakan pesan yang biasa dipakai dalam kaidah agama Islam, pesan untuk selalu mengingat bahwa hidup tidak abadi, kehidupan adalah fana dan semu. //Haram berkata sepatah jua// Lambang Haram menunjuk pada kaidah yang berlaku dalam agama Islam, artinya menegaskan larangan. Dalam sajak ini haram bergeser menjadi “sama sekali tidak berbicara, sama sekali tidak meninggalkan pesan”.
(kumpulan sajak Nyanyi Sunyi)
PADAMU JUA
Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu.
Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia selalu.
Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa
Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati.
Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lapar.
Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara di balik tirai.
Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu — bukan giliranku
Mati hari — bukan kawanku ....
Penutup
Tidak sedikit pengamat sastra yang menempatkan sajak Amir Hamzah sebagai sajak yang berhaluan sufistik, meskipun tidak sedikit yang menentangnya. Agaknya salah satu hal yang menjadikan Amir Hamzah dikategorikan sebagai sastrawan sufistik adalah pemakaian konvensi Islam yang cukup kental dalam sajaknya. Dengan kovensi Islami yang dijadikan ciri atau gayanya itulah, para pengamat menyimpulkan jati diri, watak Amir Hamzah. Gaya bahasa memungkinkan seseorang untuk dapat menilai pribadi, watak, dan kemampuan seseorang yang mempergunakan gaya tersebut (Keraf, 2008:113).
Sungguh sesuatu yang menarik jika relasi konvesi dan invensi yang dimainkan Amir Hamzah dalam sajak-sajaknya didekati secara luas dengan mempertimbangkan latar sosial pada saat sajak-sajak itu ditulis. Konvensi dan invensi menjadi hukum universal yang berlaku dalam semua sajak, siapapun penyairnya dan bagaimanapun latar sosialnya. Mengamati konvensi yang dipakai penyair sama dengan memperhatikan kecenderungan sosial sang penyair. Apalagi dalam sajak-sajak yang berisi kritikan terhadap pemerintah, invensi dan konvensi yang dipakai menggambarkan ketegangan realitas dunia nyata yang membuat galau hati sang penyair.
__________
Hudjolly, M.Phil , Peminat Kajian Tradisi
Email: tembuslangit@yahoo.co.id
Referensi
Gorys Keraf, 2008. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta, Gramedia.
Hamzah, Amir. 1996. Buah Rindu. Jakarta: Dian Rakyat.
Hamzah, Amir. 1996. Nyanyi Sunyi. Jakarta: Dian Rakyat.
Hasan Lubis, 1994, Analisa Wacana Pragmatis. Bandung, Penerbit CV Angkasa.
Luxemburg, dkk, 1989. Pengantar Ilmu Sastra. Penerjemah Dick Hartoko. Jakarta, Gramedia.
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya

Sabtu, 26 Maret 2011

Karya Sastra Chairil Anwar

Author: Chairil Anwar


Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Brawidjaja,
Jilid 7, No 16,
1957

Malam Di Pegunungan

Author: Chairil Anwar

Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!

1947


Derai Derai Cemara

Author: Chairil Anwar

cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

1949

Diponegoro

Author: Chairil Anwar

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU


Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang

(Februari 1943)
Budaya,
Th III, No. 8
Agustus 1954


Pantun - Pantun Agama


Sungguh indah pintu dipahat
Burung puyuh di atas dahan
Kalau hidup hendak selamat
Taat selalu perintah Tuhan

      Halia ini tanam-tanaman
      Ke barat juga akan rebahnya
      Dunia ini pinjam-pinjaman
      Ke akhirat juga akan sudahnya

Redup bulan nampak nak hujan
Pasang pelita sampai berjelaga
Hidup mati di tangan Tuhan
Tiada siapa dapat menduga

             Belatuk di atas dahan
             Terbang pergi ke lain pokok
             Hidup mati ditangan Tuhan
             Kepada Allah kita bermohon

Daun tetap di atas dulang
Anak udang mati dituba
Dalam kitab ada terlarang
Perbuatan haram jangan dicuba

     Terang bulan terang bercahaya
     Cahaya memancar ke Tanjung Jati
     Jikalau hendak hidup bahagia
     Beramal ibadat sebelum mati

            Asam kandis asam gelugur
            Ketiga asam si riang-riang
            Menangis mayat di pintu kubur
            Teringat jasad tidak sembahyang

Kulit lembu celup samak
Mari buat tapak kasut
Harta dunia janganlah tamak
Kalau mati tidak diikut

     Banyaklah masa antara masa
     Tidak seelok masa bersuka
     Meninggalkan sembahyang jadi biasa
     Tidak takut api neraka?

            Dua tiga empat lima
            Enam tujuh lapan sembilan
            Kita hidup takkan lama
            Jangan lupa siapkan bekalan

                          Kalau Tuan pergi ke Kedah
                          Singgah semalam di Kuala Muda
                          Sembahyang itu perintah Tuhan
                          Jika ingkar masuk neraka

             Ramai orang menggali perigi
             Ambil buluh lalu diikat
             Ilmu dicari tak akan rugi
             Buat bekalan dunia akhirat

      Pak Kulup anak juragan
      Mati diracun muntahkan darah
      Hidup di dunia banyak dugaan
      Kepada Allah kita berserah

Letak bunga di atas dulang
Sisipkan daun hiasan tepinya
Banyak berdoa selepas sembahyang
Mohon diampun dosa di dunia

      Encik Borhan seorang kerani
      Terkemut-kemut bila meniti
      Tinggalkan sembahyang terlalu berani
      Sepertii tubuhnya takkan mati

                          Sayang-sayang buah kepayang
                          Buah kepayang hendak dimakan
                          Manusia hanya boleh merancang
                          Kuasa Allah menentukan

Masa berada di Pulau Jawa
Rakan diajak pergi menjala
Maha Berkuasa jangan dilupa
Kuasa Allah tidak terhingga

           Nyiur mudah luruh setandan
           Diambil sebiji lalu dibelah
           Sudah nasib permintaan badan
           Kita di bawah kehendak Allah

Kemuning di dalam semak
Jatuh melayang ke dalam paya
Meski ilmu setinggi tegak
Tidak sembahyang apa gunanya?

           Harimau belang turun sekawan
           Mati ditikam si janda balu
           Ilmu akhirat tuntutlah tuan
           Barulah sempurna segala fardu

Kera di hutan terlompat-lompat
Si pemburu memasang jerat
Hina sungguh sifat mengumpat
Dilaknat Allah dunia akhirat

          Anak ayam turun sepuluh
          Mati seekor tinggal sembilan
          Bangun pagi sembahyang subuh
          Minta doa kepada Tuhan

Anak ayam turun sembilan
Mati seekor tinggal lapan
Duduk berdoa kepada Tuhan
Minta Allah jalan ketetapan

         Anak ayam turun lapan
         Mati seekor tinggal tujuh
         Duduk berdoa kepada Tuhan
         Supaya terang jalan bersuluh

Anak ayam turunnya lima
Mati seekor tinggal empat
Turut mengikut alim ulama
Supaya betul jalan makrifat

          Anak ayam turunnya lima
          Mati seekor tinggal empat
          Kita hidup mesti beragama
          Supaya hidup tidaklah sesat

Tuan Haji memakai jubah
Singgah sembahyang di tengah lorong
Kalau sudah kehendak Allah
Rezeki segenggam jadi sekarung

         Bulu merak cantik berkaca
        Gugur sehelai ke dalam baldi
        Jika tak banyak kitab dibaca
        Jangan mengaku khatib dan kadi

Inderagiri pasirnya lumat
Kepah bercampur dengan lokan
Sedangkan nabi kasihkan umat
Inikan pula seorang insan
 
       Sang puteri pergi berenang
       Sambil berenang berdondang sayang
       Jika hidup dikurnia senang
       Jangan lupa tikar sembahyang

oleh : Chairil Azwar
http://penyair.wordpress.com/2007/06/22/pantun-nasihat/


Minggu, 13 Maret 2011

Garis Besar Hak dan Kewajiban Suami Isteri Dalam Islam
“Petunjuk Sunnah dan Adab Sehari-hari Lengkap”
karangan H.A. Abdurrahman Ahmad.

Hak Bersama Suami Istri
- Suami istri, hendaknya saling menumbuhkan suasana mawaddah dan rahmah. (Ar-Rum: 21)
- Hendaknya saling mempercayai dan memahami sifat masing-masing pasangannya. (An-Nisa’: 19 - Al-Hujuraat: 10)
- Hendaknya menghiasi dengan pergaulan yang harmonis. (An-Nisa’: 19)
- Hendaknya saling menasehati dalam kebaikan. (Muttafaqun Alaih)


Adab Suami Kepada Istri .
- Suami hendaknya menyadari bahwa istri adalah suatu ujian dalam menjalankan agama. (At-aubah: 24)
- Seorang istri bisa menjadi musuh bagi suami dalam mentaati Allah dan Rasul-Nya. (At-Taghabun: 14)
- Hendaknya senantiasa berdo’a kepada Allah meminta istri yang sholehah. (AI-Furqan: 74)
- Diantara kewajiban suami terhadap istri, ialah: Membayar mahar, Memberi nafkah (makan, pakaian, tempat tinggal), Menggaulinya dengan baik, Berlaku adil jika beristri lebih dari satu. (AI-Ghazali)
- Jika istri berbuat ‘Nusyuz’, maka dianjurkan melakukan tindakan berikut ini secara berurutan: (a) Memberi nasehat, (b) Pisah kamar, (c) Memukul dengan pukulan yang tidak menyakitkan. (An-Nisa’: 34) … ‘Nusyuz’ adalah: Kedurhakaan istri kepada suami dalam hal ketaatan kepada Allah.
- Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah, yang paling baik akhlaknya dan paling ramah terhadap istrinya/keluarganya. (Tirmudzi)
- Suami tidak boleh kikir dalam menafkahkan hartanya untuk istri dan anaknya.(Ath-Thalaq: 7)
- Suami dilarang berlaku kasar terhadap istrinya. (Tirmidzi)
- Hendaklah jangan selalu mentaati istri dalam kehidupan rumah tangga. Sebaiknya terkadang menyelisihi mereka. Dalam menyelisihi mereka, ada keberkahan. (Baihaqi, Umar bin Khattab ra., Hasan Bashri)
- Suami hendaknya bersabar dalam menghadapi sikap buruk istrinya. (Abu Ya’la)
- Suami wajib menggauli istrinya dengan cara yang baik. Dengan penuh kasih sayang, tanpa kasar dan zhalim. (An-Nisa’: 19)
- Suami wajib memberi makan istrinya apa yang ia makan, memberinya pakaian, tidak memukul wajahnya, tidak menghinanya, dan tidak berpisah ranjang kecuali dalam rumah sendiri. (Abu Dawud).
- Suami wajib selalu memberikan pengertian, bimbingan agama kepada istrinya, dan menyuruhnya untuk selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. (AI-Ahzab: 34, At-Tahrim : 6, Muttafaqun Alaih)
- Suami wajib mengajarkan istrinya ilmu-ilmu yang berkaitan dengan wanita (hukum-hukum haidh, istihadhah, dll.). (AI-Ghazali)
- Suami wajib berlaku adil dan bijaksana terhadap istri. (An-Nisa’: 3)
- Suami tidak boleh membuka aib istri kepada siapapun. (Nasa’i)
- Apabila istri tidak mentaati suami (durhaka kepada suami), maka suami wajib mendidiknya dan membawanya kepada ketaatan, walaupun secara paksa. (AIGhazali)
- Jika suami hendak meninggal dunia, maka dianjurkan berwasiat terlebih dahulu kepada istrinya. (AI-Baqarah: ?40)

Adab Isteri Kepada Suami
- Hendaknya istri menyadari clan menerima dengan ikhlas bahwa kaum laki-Iaki adalah pemimpin kaum wanita. (An-Nisa’: 34)
- Hendaknya istri menyadari bahwa hak (kedudukan) suami setingkat lebih tinggi daripada istri. (Al-Baqarah: 228)
- Istri wajib mentaati suaminya selama bukan kemaksiatan. (An-Nisa’: 39)
- Diantara kewajiban istri terhadap suaminya, ialah:
a. Menyerahkan dirinya,
b. Mentaati suami,
c. Tidak keluar rumah, kecuali dengan ijinnya,
d. Tinggal di tempat kediaman yang disediakan suami
e. Menggauli suami dengan baik. (Al-Ghazali)
- Istri hendaknya selalu memenuhi hajat biologis suaminya, walaupun sedang dalam kesibukan. (Nasa’ i, Muttafaqun Alaih)
- Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur untuk menggaulinya, lalu sang istri menolaknya, maka penduduk langit akan melaknatnya sehingga suami meridhainya. (Muslim)
- Istri hendaknya mendahulukan hak suami atas orang tuanya. Allah swt. mengampuni dosa-dosa seorang Istri yang mendahulukan hak suaminya daripada hak orang tuanya. (Tirmidzi)
- Yang sangat penting bagi istri adalah ridha suami. Istri yang meninggal dunia dalam keridhaan suaminya akan masuk surga. (Ibnu Majah, TIrmidzi)
- Kepentingan istri mentaati suaminya, telah disabdakan oleh Nabi  saw.: “Seandainya dibolehkan sujud sesama manusia, maka aku akan perintahkan istri bersujud kepada suaminya. .. (Timidzi)
- Istri wajib menjaga harta suaminya dengan sebaik-baiknya. (Thabrani)
- Istri hendaknya senantiasa membuat dirinya selalu menarik di hadapan suami(Thabrani)
- Istri wajib menjaga kehormatan suaminya baik di hadapannya atau di belakangnya (saat suami tidak di rumah). (An-Nisa’: 34)
- Ada empat cobaan berat dalam pernikahan, yaitu: (1) Banyak anak (2) Sedikit harta (3) Tetangga yang buruk (4) lstri yang berkhianat. (Hasan Al-Bashri)
- Wanita Mukmin hanya dibolehkan berkabung atas kematian suaminya selama empat bulan sepuluh hari. (Muttafaqun Alaih)
- Wanita dan laki-laki mukmin, wajib menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluannya. (An-Nur: 30-31)
Isteri Sholehah
- Apabila’ seorang istri, menjaga shalat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramddhan, memelihara kemaluannya, dan mentaati suaminya, niscaya Allah swt. akan memasukkannya ke dalam surga. (Ibnu Hibban)
- Istri sholehah itu lebih sering berada di dalam rumahnya, dan sangat jarang ke luar rumah. (Al-Ahzab : 33)
- Istri sebaiknya melaksanakan shalat lima waktu di dalam rumahnya. Sehingga terjaga dari fitnah. Shalatnya seorang wanita di rumahnya lebih utama daripada shalat di masjid, dan shalatnya wanita di kamarnya lebih utama daripada shalat di dalam rumahnya. (lbnu Hibban)
- Hendaknya menjadikan istri-istri Rasulullah saw. sebagai tauladan utama.


oleh : Khoiril Az